Kejujuran Seorang Supir Taksi

kejujuran seorang supir taksi
kejujuran seorang supir taksi

Zhao Le seorang sopir taksi, menjadi buah bibir di Tiongkok. Pasalnya, dia mengembalikan satu kantong kertas berisi uang tunai sebesar 16.200 poundsterling atau lebih dari Rp 300 juta, milik penumpangnya. Sebelumnya, Zhao mengantar sepasang muda-mudi ke sebuah dealer mobil di kota Harbin, Provinsi Heilongijang, Tiongkok. Ketika kembali dari tempat itu, Zhao menemukan uang di kursi belakang taksinya. Namun, alih-alih mengambil “rezeki nomplok” tersebut, Zhao justru menyerahkan uang itu ke manajemen perusahaan taksi tempatnya bekerja. Perusahaan taksi kemudian menghubungi penumpang taksi Zhao. Uang itu akhirnya dikembalikan kepada sang empunya, dimana uang tersebut sedianya digunakan untuk membeli mobil baru. Pasangan muda itu sangat gembira mendapatkan uangnya kembali dan menawarkan hadiah uang kepada Zhao sebesar 10.000 yuan atau sekitar Rp 18 juta sebagai imbalan atas kejujurannya. Namun. Zhao menolak hadiah tersebut karena ia menganggap bahwa mengembalikan uang itu adalah bagian dari kewajibannya sebagai seorang sopir taksi. “Ini adalah hal yang harus saya lakukan. Semua orang yang kehilangan uang sebanyak itu akan kebingungan. Saya tak mengambil keuntungan dari itu,” kata Zhao. Pendapatan pengemudi taksi seperti Zhao Le di  Tiongkok maksimal hanya Rp 9 juta per bulan dengan 14 jam kerja selama enam hari, sepekan. Sehingga, uang sebesar Rp 300 juta sangatlah besar bagi Zhao, tiga kali lipat dari penghasilannya setahun.

Sikap Zhao sangat berbeda dengan sikap Gehazi, hamba Nabi Elisa. Gehazi berusaha mendapat keuntungan dari kesembuhan Naaman, panglima raja Aram, yang baru saja disembuhkan oieh Elisa. Naaman memberikan sejumlah pemberian kepada Elisa sebagai rasa terima kasihnya atas kesembuhan yang telah dialaminya. Namun, Elisa tidak menerimanya. Merasa Elisa terlalu segan terhadap Naaman, Gehazi berlari mengejar Naaman tanpa sepengetahuan Elisa. la memberikan pesan bohong kepada Naaman dengan berkata bahwa Elisa baru saja kedatangan dua orang pemuda dari rombongan nabi, dan ia ingin Naaman membantu mereka. Tanpa berpikir panjang, Naaman menyerahkan dua talenta perak dan dua potong pakaian kepada Gehazi. Gehazi mendapatkan barang-barang tersebut, tetapi akibat kebohongannya, kusta Naaman beralih kepada Gehazi dan keturunannya.

Kejujuran adalah satu sifat yang sangat penting dalam hidup orang percaya. Kejujuran akan menjauhkan kita dari kebohongan dan dari merugikan orang lain. Bahkan, kejujuran akan meluputkan kita dari hukuman Tuhan, sedangkan ketidakjujuran akan menerima hukumannya dari Tuhan. Jika orang dunia saja sangat menghargai kejujuran, mengapa kita anak-anak Tuhan tidak begitu menghargainya? Zhao memberikan sebuah teladan yang baik bagi kita dalam mempraktekkan sebuah kejujuran.

“Orang baik dituntun oleh kejujurannya; orang yang suka bohong dihancurkan oleh kebohongannya” (Amsal 11:3)

Comments

comments

One thought on “Kejujuran Seorang Supir Taksi

  1. Memberkati sekali…. Mampukan aq ya Tuhan untuk dapat selalu hidup jujur….😇

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *