Tuhan dan Ibu

Tuhan dan Ibu

Tuhan dan Ibu

“Kau pernah melihat ibu?”

“Tidak. Aku sama sekali belum pernah melihat ibu.”

Aku dan adikku terus berjalan menyusuri lorong-lorong jembatan, tempat di mana kami biasa mencari tempat untuk beristirahat. Bukan hanya untuk malam ini, namun untuk setiap malam yang telah kami lewati atau bahkan pada malam yang akan datang.

“Kakak pernah bertemu Tuhan?”

“Belum.”

Tubuh adikku menggigil. Selain udara malam begitu dingin, perut kami juga masih berpuasa sejak kemarin. Kami belum makan.

“Kak, apakah Tuhan marah jika saat ini ibu tidak bersama dengan kita?”

“Tuhan itu tidak pernah marah.”

“Jika saat ini ibu ada bersama kita, apakah ibu akan memelukku?”

“Tentu saja.”

Ibu memang tidak bersama kami, namun aku bisa menggantikan pelukan ibu yang diinginkan oleh adikku. Pelukanku memang tidak sehangat pelukan ibu, walau aku sendiri belum pernah merasakan, setidaknya adikku tidak terlalu kedinginan.

“Kak, kita akan pergi kemana?”

“Kakak akan membawamu untuk bertemu ibu.”

“Bukankah kakak belum pernah bertemu ibu?”

“Itu benar, tapi kau akan mengerti sebentar lagi.”

Salju mulai turun. Kubiarkan tubuh adikku berada di atas punggungku, dari pada kubiarkan kaki-kaki mungilnya membeku berselimut salju. Aku masih kuat, meski kutahu aku tak sekuat Hercules seperti dongeng ibu panti.

Adikku masih tak mengerti ketika kami berhenti pada sebuah kubur. Ya, itu kubur ibu.

“Kak, apakah ibu tidur di dalam sana?”

“Ibu panti mengatakan demikian.”

“Boleh aku tidur bersama ibu?”

“Ibu sudah di surga, tapi ibu selalu menjaga kita.”

“Ibu sudah meninggal?”

“Iya.”

Ibu panti mengatakan padaku bahwa ibu meninggal karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Karena kuatir penyakit itu tertular kepada kami, ibu sesegera mungkin menitipkan kami ke panti.

“Kak, mengapa Tuhan mengambil ibu? Apakah Tuhan jahat?”

“Tuhan tidak jahat. Tuhan sangat sayang kepada ibu sehingga Tuhan tidak tega melihat ibu kesakitan dengan penyakitnya.”

“Apakah itu benar?”

“Malaikat Tuhan menjemput ibu untuk melepaskan semua kesakitan. Sekarang ibu sudah tidak sakit lagi dan ibu bersama-sama dengan Tuhan.”

“Lalu bagaimana dengan kita kak?”

“Kita harus menjadi anak-anak yang baik dan sukses. Kita akan membuat ibu dan Tuhan bangga.”

-oOo-

Tags: ,

No comments yet.

Leave a Reply