belajar mencukupkan diri

Ketika membaca sebuah berita, saya cukup miris dengan berita yang di turunkan, artikel tersebut berjudul “Isi Surat Wasiat Karyawan Bank Yang Gantung Diri Terjerat Pinjol” dalam pengabaran berita tertulis seperti ini: “ Seorang karyawan bank di Bojonegoro gantung diri karena terjerat hutang pinjol. Selain pinjol, karyawan yang berinisial HP itu juga mempunya hutang ke nasabah dan temannya. Sebelum gantung diri, korban meninggalkan sebuah surat wasiat yang dituliskannya dalam secarik kertas. Surat itu menerangkan bahwa korban terjerat hutang pinjol dan juga hutang ke teman dan nasabahnya. Korban diketahui gantung diri di kantornya pada senin 23/8/2021 saat seorang teman membuka kantornya. Sebelumnya pada sabtu 21/8/2021 korban enggan diajak pulang oleh rekannya dan beralasan memilih tidur di kantor. Korban sendiri merupakan pengantin baru setelah menikah 2 bulan lalu.

Sering kita mendengar orang yang akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena terlilit hutang. Seperti misalnya, seorang karyawan Indomaret Bernama Slamet Khudori ditemukan mengakhiri hidupnya di kontrakan yang berada di Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat pada tanggal 26/11/2019, diketahui motifnya dari secarik kertas yang dia tinggalkan, bahwa dia terlilit hutang pinjaman online dalam jumlah yang besar. Atau pada Februari 2019, seorang supir taksi Bernama zulfadli yang baru berumur 35 tahun, juga ditemukan gantung diri di kamar kosnya, motifnya sama, yaitu karena tidak kuat dengan tekanan psikis yang dilakukan oleh penagih hutang dari aplikasi pinjaman online illegal.

Sangat miris mengakhiri hidup larena terlilit hutang. Mari kita perhatikan nasihat Yohanes kepada para prajurit, “ … dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” (Luk 3:14) Mencukupkan diri adalah hal terpenting yang harus kita lakukan agar kita tidak jatuh kedalam “ besar pasak daripada tiang”. Mencukupkan diri bukanlah hal yang mudah, karena memerlukan hikmat dan pengendalian diri. Kalua kita tidak bisa mengendalikan diri dalam hal keinginan terhadap barang, maka kemungkinan besar kit akita akan jatuh kedalam lubang hutang. Bukan berarti kita tidak boleh berhutang, kitab oleh berhutang apabila jika memang sangat diperlukan, dan dengan perhitungan yang matang dan keyakinan bahwa kita sanggup membayarnya. Seperti misalnya, hutang ke bank dalam bentuk KPR, jika kita yakin bisa membayarnya,mengapa tidak? Bukankan memiliki rumah adalah hal yang baik dan kedepannya harga rumah akan terus naik. Yang harus kita hindari adalah berhutang untuk membeli barang barang yang sebenarnya kita tidak perlukan atau hanya sekedar agar dilihat oleh orang lain. Mari mencukupkan diri dengan apa yang kita miliki.  Jangan sampai anda menjadi batu sandungan karena terlilit hutang hanya karena memenuhi gaya hidup dan keegoisan anda. Bersyukurlah untuk seberapa pun berkat yang kita terima dan berhikmatlah dalam mengaturnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, bukan untuk keinginan.

Mencukupkan diri bukan hal yang mudah di tengah masyarakat yang hedonis, tetapi Bersama Tuhan , KITA BISA

Renungan Harian Kristen

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.